Conversion to Islam and American Women


Acara pagi hari, Rabu tanggal 10 Juli 2019, pukul 10.00 wib bertempat di kantor UPT bahasa IAIDA dimulai dengan penjelasan pemateri, Ibu Zulfi Zumala Dwi Andriyani, S.S., M.A tentang proposal disertasinya. Topik yg diangkat beliau dalam disertasinya adalah pindah agama yg dilakukan oleh tiga orang warga Amerika perempuan yg ketiganya menulis memoir dalam perjalanan perpindahan agama tersebut.
Penjelasan dimulai dari alasan awal beliau memilih topik yg diangkat untuk diteliti. Pertama, ada kesinambungan topik ini dengan tesis yang beliau tulis sebelumnya di jenjang S2. Alasan ini, setelah berdiskusi dengan Miss Hawa dan Fareh, ternyata memiliki hal yg menguntungkan dan tidak menguntungkan. Menguntungkan karena peneliti memiliki pengetahuan lebih tentang objek kajian, sehingga benefit yg diperoleh nantinya selain kajian bisa menjadi lebih mendalam juga dimungkinkan kajian tersebut menjadi bidang expertise peneliti. Di lain hal, ini juga menyulitkan peneliti dalam mencari novelty dari penelitiannya. Terlebih jika bidang kajian tersebut sudah diteliti oleh banyak peneliti lain, tentu saja penelitian ibu Zulfi di jenjang S2 juga termasuk di dalamnya.
Akan tetapi, tantangan hal yang tidak menguntungkan ini dijawab lugas oleh beliau dengan memberikan positioning yg jelas terhadap penelitiannya.
“Jadi, kebanyakan penelitian sebelumnya bersifat Etnografi. Dari observasi langsung di masyarakat. Sementara untuk penelitian ini, bersumber dari memoir yg merupakan sub-genre karya sastra”
begitu kira-kira penjelasan beliau terhadap positioning penelitiannya.
Alasan kedua, ibu Zulfi merasa tertarik untuk melihat permasalahan pindah agama tersebut karena fenomena ini menjadi jamak terjadi di Amerika pasca peristiwa 9/11. Hal ini dibuktikan dengan naiknya rasa ingin tahu warga Amerika terhadap Islam.
“Jadi, setelah 9/11 itu, keyword pencarian dg kata kunci ‘Islam’ menjadi naik, misalnya di situs pencarian buku-buku online” tandasnya
Dari penjelasan tentang alasan pemilihan topik ini Blio beralih ke penjelasan tentang kondisi Islam di Amerika. Beliau menjelaskan bahwa Islam sebenarnya sudah ada lama di Amerika, tetapi tidak se-terkenal setelah peristiwa 9/11. 9/11 membawa dampak yg seram-seram sedap bagi Islam. Seram karena setelah itu banyak orang mengalami islamofobia. Takut Islam, termasuk, pemerintah Amerika sendiri.
“Jadi, di Amerika ada warga imigran yg dulu pindah ke Amerika. Setelah di Amerika mereka beberapa kali mengirim uang ke kampung halamannya untuk keluarga disana. Tindakan ini dicurigai sebagai pendanaan teroris, lalu warga tersebut dipenjara karena hal itu” ungkapnya.
Tetapi, selain menghadirkan fobia, keingintahuan terhadap Islam pun meningkat. Keyword pencarian internet, minat terhadap buku bertemakan Islam, meningkat pesat. Hal inilah yg kemudian disinyalir menjadi pintu masuk hadirnya Islam bagi pelaku konversi agama yg diteliti ibu Zulfi.
Setelah peristiwa 9/11 yg disebut ibu Zulfi sebagai ‘turning point’, para penulis memoir (ada tiga memoir yg dijadikan objek penelitian ini) tersebut kemudian bertemu dengan Islam dengan cara mereka sendiri. Satu diantaranya, kata ibu Zulfi memutuskan memeluk Islam setelah membaca banyak buku tentang Islam. Dari pengetahuan membaca ini, ia pun merasa sreg dan memutuskan bersyahadat.
Ibu Hawa mencoba bertanya tentang kualitas literasi dari para pelaku konversi agama ini. Apakah budaya mau membaca dan menelusuri, berpengaruh besar terhadap keputusan pindah agama. Dari pertanyaan seputar literasi ini juga kemudian diketahui bahwa kondisi di Amerika dan Indonesia sangat berbeda; di Indonesia bisa dengan mudah ditemukan role model sebagai representasi Islam itu sendiri, berbeda dengan Amerika dimana Islam menjadi minotitas sehingga keberadaan rolemodel tidak se-melimpah di Indonesia. Karenanya, literasi ttg Islam kemudian menjadi pintu lebar menuju Islam.
Walaupun demikian, peran role model (walaupun jarang ada) juga ditemukan dalam proses perjumpaan pelaku pindah agama dengan Islam. Salah satu pelaku, Kata ibu Zulfi, melakukan pindah agama setelah beberapa kali berinteraksi dengan keluarga imigran muslim yang kebetulan teman kerjanya, saat dia diminta teman kerjanya tersebut untuk mengajari mereka bahasa Inggris. Dari sini terlihat, bahwa peran rolemodel juga masih ada.
Tambahan mengenai rolemodel ini disampaikan ibu Hawa, tentang teman Amerikanya yg memeluk Islam setelah dia masuk penjara dan bertemu Muslim disana.
“Jadi dia itu, teman saya, masuk Islam setelah masuk penjara karena drugs. Saat tahu Islam, dia merasa tenang, dan damai, juga ketika melihat orang sholat, dia bisa tenang. Lalu dia masuk Islam”
Pembahasan kemudian berlanjut ke apa sebenarnya yang ingin dilihat oleh penelitian ibu Zulfi ini. Mengenai hal ini, ibu Zulfi menjelaskan tentang dua dimensi dalam proses konversi agama. Konversi agama menurut beliau, atau menurut teori dari Ericksen yg beliau pakai, memiliki beberapa fase. Namun sayang sekali, fase-fase ini kurang tertuang secara gamblang dalam proses diakusi. Yg kemudian tergambar adalah garis besar saja, apa saja faktor-faktor yang melekat pada diri pelaku konversi, seperti emosi, attitude, performance dlsb.
“Ternyata, setelah diteliti, hal-hal ini saling berkaitan. Tidak bisa berdiri sendiri, saling mempengaruhi” begitu kira-kira penjelasan beliau.
Fase tersebut kemudian dihubungkan dengan dua dimensi, dimensi personal dan dimensi sosial dari pelaku. Dalam dimensi personal misalnya, ternyata ada fase-fase umur dimana seorang individu mengalami kerentanan untuk berpindah agama. Bahkan, hal ini kemudian disadari ibu Zulfi juga terjadi pada dirinya.
“Jadi pembimbingku bertanya: ‘apa ibu Zulfi dulu memiliki pengalaman galau tentang agama ya, kok tertarik sekali ambil tema ini?’. Dan aku iya kan.” Lalu ibu Zulfi melanjutkan dengan menceritakan pengalaman emosionalnya dalam beragama saat usia SMA.
Diskusi tentang dua hal; personal dan sosial dimensi ini kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan bapak Fareh seputar ‘bagaimana ibu Zulfi melakukan langkah-langkah dalam penelitiannya?’. Pertanyaan ini dijawab dengan penjelasan ibu Zulfi seputar konsep alur berpikir yg sudah dia susun, penyusunan konsep tersebut berdasarkan pembacaan awal terhadap ketiga memoir. Setelah itu, pembacaan lanjutan akan dia lakukan dengan tujuan untuk mencari data-data yang akan dia tampilkan sebagai dalil dan penguat konsepnya.
Di tengah penjelasan tentang teknis operasional penelitiannya ini, ibu Zulfi juga mengeluhkan tumpang tindihnya pembabakan Findings dan Discussion dalam disertasinya. Perbedaan diantara keduanya tidak mudah ditemukan, tetapi permaslahan ini dianggap sebagai permasalahan minor saja oleh ibu Zulfi.
“Eh, tapi pembimbingku ini jan saklek banget dengan buku panduan penulisan disertasi, beda banget dengan pembimbingku satunya yg dari Australia” pungkasnya.
Dari diskusi ini pula, kemudian muncul beberapa pertanyaan. Misalnya Fareh menanyakan, “apakah mungkin, kondisi emosional dll dr faktor personal yang ibu Zulfi temukan, bisa dijadikan sebagai wawasan dalam dakwah?”
Bu Zulfi menjawab dengan lugas bahwa untuk saat ini beliau belum tertarik untuk membawa kajiannya ke ranah dakwah.
“Saya belum tertarik ke arah dakwah” katanya.
Hal menarik lainnya diutarakan Miss Hawa tentang apakah mungkin juga diketahui Islam seperti apa yang kemudian dipeluk oleh para pelaku konversi ini ?. Apakah Sunni, Syiah, moderat atau konservatif ?. Karena menurut ibu Zulfi, salah satu pelaku konversi menggunakan cadar dengan alasan ingin memeluk Islam secara kaffah, sedangkan yang lain tidak sampai begitu.
Ibu Zulfi belum memikirkan tentang hal tersebut, karena pada mulanya yg ingin beliau ketahui adalah fase dari awal hingga ia berpindah agama saja. Hal mengenai corak beragama tidak menjadi masalah yg punya signifikansi besar dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian. Walaupun demikian, ada sedikit ketertarikan beliau untuk memasukkan hal tersebut sebagai nilai plus dan novelty dari penelitiannya,
“Tapi mengko (red. nanti) tambah melebar kemana-mana. Iya si, penelitian yg bagus kan yang bisa sedetail-detailnya” katanya.
Tidak terasa, pukul 12.00 wib. Waktu 2 jam tersebut berlalu begitu saja. Peserta weekly discussion tentu saja merasa bahagia dan memutuskan untuk mengakhiri acara. Walaupun, masih banyak hal yang bisa dipaparkan oleh ibu Zulfi, tetapi dengan pertimbangan kemampuan otak yang pas-pasan, peserta mengusulkan untuk menyudahi diskusi.
Akhirnya, acara diakhiri dengan rasa gembira dan kelegaan karena 2 jam membicarakan single subject adalah sebuah prestasi bagi para peserta diskusi yang biasanya mengobrol tanpa arah tujuan. Selain itu, ini prestasi karena selama 2 jam, setidaknya mereka terhindar dari ghibah jamaah (membicarakan aib orang) yang beberapa waktu ini mereka jadikan hobi.

Share:

Popular Posts

Blog Archive

Total Pengunjung