INFO PENTING!!!

Pendaftaran ulang intensif bahasa tanggal 2-15 Februari 2021 | Sertifikat intensif bahasa bisa di download di menu (download => sertifikat) | Pengambilan sertifikat intensif bahasa tahun 2019/2020 maksimal pada tanggal 1 Maret 2021 | Untuk pendaftaran online member baru, klik tombol "DAFTAR" pojok kanan atas | Bagi yang sudah daftar secara online, password akun akan dikirim ke e-mail yang telah didaftarkan

Kelas Menulis Kreatif Prodi TBIN

Blokagung - Selasa, 09 Maret 2021 Pukul 09:00 WIB Pembukaan sekaligus pengarahan Kelas Menulis Kreatif oleh koordinator Bahasa Indonesia Asngadi Rofiq., M.Pd. yang bertempat di Gedung Pendidikan  ruang G4. Acara ini dihadiri oleh Mahasiswa Tadris Bahasa Indonesia angkatan 2019 dan 2020. 

Program ini merupakan program baru yang digagas oleh UPT Bahasa IAIDA Blokagung. Selain program ini diwajibkan kepada mahasiswa Prodi Tadris Bahasa Indonesia, juga dibuka untuk umum. Program ini dilaksanakan disetiap hari Selasa dan Kamis secara bergelombang pada tiap minggunya yaitu antara mahasiswa yang berafilisi di pondok Darussalam Blokagung dan mahasiswa dari luar pondok. Selama satu bulan ini, proses menulis akan dibimbing langsung oleh tutor-tutor yang telah ditunjuk oleh Koordinator Bahasa Indonesia.

Target dari progam ini adalah, agar bisa menghasilkan produk karya tulis berupa cerpen. Asngadi selaku koordinator sangat optimis program ini bisa sukses karena beliau sudah berpengalaman dalam membimbing siswa-siswi MTs dan MA Al Amiriyyah Blokagung, "Apalagi ini (pesertanya dari) mahasiswa, mestinya kosa kata mereka lebih banyak". tandas Asngadi ketika acara pembukaan. ys


Share:

Belajar Tentang Linguistik


Pemateri       : Ahmad Mufarih., M.A.
Profesi           : Dosen di IAI Darussalam Blokagung
Pelaksanaan : 10 Desember 2019
Moderator    : Zulfi Zumala., M.A.

Isi Materi :

Moderatur mengajukan sebuah pertanyaan kepada audiens dan narasumber : "Apa yang anda ketahui tentang ilmu Linguistik ?". Dalam hal ini ibu Hawa menjawab : " Linguistic is the study about language. People who is expert about language is linguist (Linguistik adalah studi tentang bahasa. (dan) orang yang ahli tentang bahasa disebut pakar Linguistik). Sedangkan narasumber menjawab : "That's way in UGM (Universitas gajah Mada), karena ada kesalahan menyebut jurusan menjadi ilmu linguistik, yang seharusnya cukup dengan sebutan Linguistik saja karena Linguistik sudah mencakup ilmu didalamnya".

Menurut Mufarih, Filsafat dibagi menjadi tiga bagian 1). Epistimologi yaitu teori dalam Filsafat 2). Ontologi yaitu objek dari ilmu tersebut. Sedangkan 3). Aksiologi yaitu manfaat yang didapat dari ilmu tersebut.

Masih menurut beliau, Linguistik merupakan bagian dari filologi, dan filologi bagian dari Filsafat. Sedangkan arti bahasa itu sendir adalah mother language, sister language dan family. Dan arti dari Filologi adalah ilmu tentang teks klasik (red; kuno).

Linguistik deskriptif menjelaskan bahasa dalam satu periode. seperti halnya grammar atau ilmu nahwu. Menurut beliau juga bahasa itu terdiri dari beberpa unsur yaitu 1). Wacana (discourse) 2). Paragraf 3). Sentence. Perbedaan dari Phenomic dan Phonolagy adalah jika Phonemic membahas tentang bunyi tanpa makna tertentu sedangkan Phonology membahas tentang bunyi yang membedakan makna.

Kekerabatan bahasa dapat dilihat dari phonemnya, sedangkan family bahasa dapat dilihat dari geografisnya. Contoh Austronesia, Indo Eropa, Helio semitic (Afro Asia) dan Artaik. Sedangkan alat untuk mengukur tingkat kekerabatan bahasa dapat menggunakan hal berikut, diantaranya : 1). Morris Swadesh (alat mengukur apakagh ini bahasa atau dialek). 2). Phonem (bunyi) membedakan makna. 3). Morphem yaitu satuan terkecil bahasa yang memiliki makna. (ab)

Share:

Conversion to Islam and American Women


Acara pagi hari, Rabu tanggal 10 Juli 2019, pukul 10.00 wib bertempat di kantor UPT bahasa IAIDA dimulai dengan penjelasan pemateri, Ibu Zulfi Zumala Dwi Andriyani, S.S., M.A tentang proposal disertasinya. Topik yg diangkat beliau dalam disertasinya adalah pindah agama yg dilakukan oleh tiga orang warga Amerika perempuan yg ketiganya menulis memoir dalam perjalanan perpindahan agama tersebut.
Penjelasan dimulai dari alasan awal beliau memilih topik yg diangkat untuk diteliti. Pertama, ada kesinambungan topik ini dengan tesis yang beliau tulis sebelumnya di jenjang S2. Alasan ini, setelah berdiskusi dengan Miss Hawa dan Fareh, ternyata memiliki hal yg menguntungkan dan tidak menguntungkan. Menguntungkan karena peneliti memiliki pengetahuan lebih tentang objek kajian, sehingga benefit yg diperoleh nantinya selain kajian bisa menjadi lebih mendalam juga dimungkinkan kajian tersebut menjadi bidang expertise peneliti. Di lain hal, ini juga menyulitkan peneliti dalam mencari novelty dari penelitiannya. Terlebih jika bidang kajian tersebut sudah diteliti oleh banyak peneliti lain, tentu saja penelitian ibu Zulfi di jenjang S2 juga termasuk di dalamnya.
Akan tetapi, tantangan hal yang tidak menguntungkan ini dijawab lugas oleh beliau dengan memberikan positioning yg jelas terhadap penelitiannya.
“Jadi, kebanyakan penelitian sebelumnya bersifat Etnografi. Dari observasi langsung di masyarakat. Sementara untuk penelitian ini, bersumber dari memoir yg merupakan sub-genre karya sastra”
begitu kira-kira penjelasan beliau terhadap positioning penelitiannya.
Alasan kedua, ibu Zulfi merasa tertarik untuk melihat permasalahan pindah agama tersebut karena fenomena ini menjadi jamak terjadi di Amerika pasca peristiwa 9/11. Hal ini dibuktikan dengan naiknya rasa ingin tahu warga Amerika terhadap Islam.
“Jadi, setelah 9/11 itu, keyword pencarian dg kata kunci ‘Islam’ menjadi naik, misalnya di situs pencarian buku-buku online” tandasnya
Dari penjelasan tentang alasan pemilihan topik ini Blio beralih ke penjelasan tentang kondisi Islam di Amerika. Beliau menjelaskan bahwa Islam sebenarnya sudah ada lama di Amerika, tetapi tidak se-terkenal setelah peristiwa 9/11. 9/11 membawa dampak yg seram-seram sedap bagi Islam. Seram karena setelah itu banyak orang mengalami islamofobia. Takut Islam, termasuk, pemerintah Amerika sendiri.
“Jadi, di Amerika ada warga imigran yg dulu pindah ke Amerika. Setelah di Amerika mereka beberapa kali mengirim uang ke kampung halamannya untuk keluarga disana. Tindakan ini dicurigai sebagai pendanaan teroris, lalu warga tersebut dipenjara karena hal itu” ungkapnya.
Tetapi, selain menghadirkan fobia, keingintahuan terhadap Islam pun meningkat. Keyword pencarian internet, minat terhadap buku bertemakan Islam, meningkat pesat. Hal inilah yg kemudian disinyalir menjadi pintu masuk hadirnya Islam bagi pelaku konversi agama yg diteliti ibu Zulfi.
Setelah peristiwa 9/11 yg disebut ibu Zulfi sebagai ‘turning point’, para penulis memoir (ada tiga memoir yg dijadikan objek penelitian ini) tersebut kemudian bertemu dengan Islam dengan cara mereka sendiri. Satu diantaranya, kata ibu Zulfi memutuskan memeluk Islam setelah membaca banyak buku tentang Islam. Dari pengetahuan membaca ini, ia pun merasa sreg dan memutuskan bersyahadat.
Ibu Hawa mencoba bertanya tentang kualitas literasi dari para pelaku konversi agama ini. Apakah budaya mau membaca dan menelusuri, berpengaruh besar terhadap keputusan pindah agama. Dari pertanyaan seputar literasi ini juga kemudian diketahui bahwa kondisi di Amerika dan Indonesia sangat berbeda; di Indonesia bisa dengan mudah ditemukan role model sebagai representasi Islam itu sendiri, berbeda dengan Amerika dimana Islam menjadi minotitas sehingga keberadaan rolemodel tidak se-melimpah di Indonesia. Karenanya, literasi ttg Islam kemudian menjadi pintu lebar menuju Islam.
Walaupun demikian, peran role model (walaupun jarang ada) juga ditemukan dalam proses perjumpaan pelaku pindah agama dengan Islam. Salah satu pelaku, Kata ibu Zulfi, melakukan pindah agama setelah beberapa kali berinteraksi dengan keluarga imigran muslim yang kebetulan teman kerjanya, saat dia diminta teman kerjanya tersebut untuk mengajari mereka bahasa Inggris. Dari sini terlihat, bahwa peran rolemodel juga masih ada.
Tambahan mengenai rolemodel ini disampaikan ibu Hawa, tentang teman Amerikanya yg memeluk Islam setelah dia masuk penjara dan bertemu Muslim disana.
“Jadi dia itu, teman saya, masuk Islam setelah masuk penjara karena drugs. Saat tahu Islam, dia merasa tenang, dan damai, juga ketika melihat orang sholat, dia bisa tenang. Lalu dia masuk Islam”
Pembahasan kemudian berlanjut ke apa sebenarnya yang ingin dilihat oleh penelitian ibu Zulfi ini. Mengenai hal ini, ibu Zulfi menjelaskan tentang dua dimensi dalam proses konversi agama. Konversi agama menurut beliau, atau menurut teori dari Ericksen yg beliau pakai, memiliki beberapa fase. Namun sayang sekali, fase-fase ini kurang tertuang secara gamblang dalam proses diakusi. Yg kemudian tergambar adalah garis besar saja, apa saja faktor-faktor yang melekat pada diri pelaku konversi, seperti emosi, attitude, performance dlsb.
“Ternyata, setelah diteliti, hal-hal ini saling berkaitan. Tidak bisa berdiri sendiri, saling mempengaruhi” begitu kira-kira penjelasan beliau.
Fase tersebut kemudian dihubungkan dengan dua dimensi, dimensi personal dan dimensi sosial dari pelaku. Dalam dimensi personal misalnya, ternyata ada fase-fase umur dimana seorang individu mengalami kerentanan untuk berpindah agama. Bahkan, hal ini kemudian disadari ibu Zulfi juga terjadi pada dirinya.
“Jadi pembimbingku bertanya: ‘apa ibu Zulfi dulu memiliki pengalaman galau tentang agama ya, kok tertarik sekali ambil tema ini?’. Dan aku iya kan.” Lalu ibu Zulfi melanjutkan dengan menceritakan pengalaman emosionalnya dalam beragama saat usia SMA.
Diskusi tentang dua hal; personal dan sosial dimensi ini kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan bapak Fareh seputar ‘bagaimana ibu Zulfi melakukan langkah-langkah dalam penelitiannya?’. Pertanyaan ini dijawab dengan penjelasan ibu Zulfi seputar konsep alur berpikir yg sudah dia susun, penyusunan konsep tersebut berdasarkan pembacaan awal terhadap ketiga memoir. Setelah itu, pembacaan lanjutan akan dia lakukan dengan tujuan untuk mencari data-data yang akan dia tampilkan sebagai dalil dan penguat konsepnya.
Di tengah penjelasan tentang teknis operasional penelitiannya ini, ibu Zulfi juga mengeluhkan tumpang tindihnya pembabakan Findings dan Discussion dalam disertasinya. Perbedaan diantara keduanya tidak mudah ditemukan, tetapi permaslahan ini dianggap sebagai permasalahan minor saja oleh ibu Zulfi.
“Eh, tapi pembimbingku ini jan saklek banget dengan buku panduan penulisan disertasi, beda banget dengan pembimbingku satunya yg dari Australia” pungkasnya.
Dari diskusi ini pula, kemudian muncul beberapa pertanyaan. Misalnya Fareh menanyakan, “apakah mungkin, kondisi emosional dll dr faktor personal yang ibu Zulfi temukan, bisa dijadikan sebagai wawasan dalam dakwah?”
Bu Zulfi menjawab dengan lugas bahwa untuk saat ini beliau belum tertarik untuk membawa kajiannya ke ranah dakwah.
“Saya belum tertarik ke arah dakwah” katanya.
Hal menarik lainnya diutarakan Miss Hawa tentang apakah mungkin juga diketahui Islam seperti apa yang kemudian dipeluk oleh para pelaku konversi ini ?. Apakah Sunni, Syiah, moderat atau konservatif ?. Karena menurut ibu Zulfi, salah satu pelaku konversi menggunakan cadar dengan alasan ingin memeluk Islam secara kaffah, sedangkan yang lain tidak sampai begitu.
Ibu Zulfi belum memikirkan tentang hal tersebut, karena pada mulanya yg ingin beliau ketahui adalah fase dari awal hingga ia berpindah agama saja. Hal mengenai corak beragama tidak menjadi masalah yg punya signifikansi besar dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian. Walaupun demikian, ada sedikit ketertarikan beliau untuk memasukkan hal tersebut sebagai nilai plus dan novelty dari penelitiannya,
“Tapi mengko (red. nanti) tambah melebar kemana-mana. Iya si, penelitian yg bagus kan yang bisa sedetail-detailnya” katanya.
Tidak terasa, pukul 12.00 wib. Waktu 2 jam tersebut berlalu begitu saja. Peserta weekly discussion tentu saja merasa bahagia dan memutuskan untuk mengakhiri acara. Walaupun, masih banyak hal yang bisa dipaparkan oleh ibu Zulfi, tetapi dengan pertimbangan kemampuan otak yang pas-pasan, peserta mengusulkan untuk menyudahi diskusi.
Akhirnya, acara diakhiri dengan rasa gembira dan kelegaan karena 2 jam membicarakan single subject adalah sebuah prestasi bagi para peserta diskusi yang biasanya mengobrol tanpa arah tujuan. Selain itu, ini prestasi karena selama 2 jam, setidaknya mereka terhindar dari ghibah jamaah (membicarakan aib orang) yang beberapa waktu ini mereka jadikan hobi.

Share:

Kabar dari Jogja (Universitas Gajah Mada)


Pemateri       : Ahmad Kavin Adzka
Profesi           : Mahasiswa di Universitas Gajah Mada (UGM)
Jurusan         : Manajemen Kebijakan Publik
Moderator    : Ahmad Mufarih, M.A.
Pelaksanaan : 26 Desember 2019

Isi Materi :
Masuk Universitas Gajah Mada (UGM) ada untung dan tidaknya. Akan tetapi ada anggapan bahwa derajat akademik seorang mahasiswa akan terangkat jika masuk keperguruan tinggi tersebut (red. UGM). Pelajar di UGM hampir 60% berasal dari Jabodetabek dan Yogyakarta sendiri, terutama dari kota-kota besar. Fakultas yang budaya sosialnya paling bobrok adalah fakultas ilmu sosila dan politik (FISIPOL). Hal itu disebabkan karena pola fikir mahasiswa yang sejak awal masuk perkuliahan sudah berasumsi bahwa mereka akan menjadi orang besar setelah lulus dari bangku kuliah. Jadi ketika proses pembelajaran semenjak di bangku kuliah, mereka sudah saling bersaing. Sedangkan saya sendiri terbiasa sejak kecil dalam keluarga untuk berfikir ketika masuk perkuliahan, saya harus bisa bermanfaat bukan untuk mengejar sebuah profesi maupun iming-iming menjadi seorang pejabat.

Di kelas saya didominasi oleh anak-anak pejabat, ada yang berasal dari keluarga gubernur, keluarga cendana, dan juga anak seorang pilot. Mahasiswa dikelas saya itu tidak ada yg bisa misuh (red.menghina). Penghargaan sosial oleh orang yang berekonomi menengah ke atas itu kurang bagus, sebagaimana yang terjadi di kelas saya sendiri. Jadi bagaimana mereka akan membuat sebuah kebijakan jika mereka tidak pernah bergaul dan mengerti dengan "kondisi rakyat".

Adab atau sopan santun mahasiswa UGM hampir tidak ada. Contoh dikelas saya sendiri banyak diantara mereka yang melakukan free sex dan minum-minuman keras. Karena hal itu bagi mereka sudah menjadi hal biasa oleh karenanya, saya tidak pernah mendapatkan yang namanya "ketenangan belajar" selama kuliah di UGM. Ketika ospek mahasiswa baru MABA disuruh menulis artikel beserta referensinya (academic writing) karena sudah menjadi mata kuliah wajib, termasuk mengajarkan tentang citasi manager. Di UGM juga diajari cara menulis pendahuluan, pembahasan dan kesimpulan yang baik dan benart. Revolusi industri 4.0 sudah banyak merubah kebudayaaan orang yang hidup di Yogyakarta. Mahasiswa di UGM hanya pintar beragumentasi tanpa adanya aksi yang konkrit dan nyata.

Kehidupan di Yogyakarta kurang begitu menyenangkan semenjak 4-5 tahun yang lalu. Hal yang membedakan mahasiswa satu dengan yang lain adalah mereka yang mau baca dan mau bergerak. Temen kelas saya ada yang kuliah dengan membawa (red.mempunyai) 2 mobil dan 3 motor. Sedangkan biaya kos atau tempat tinggal sementara mencapai angka Rp. 2 juta perbulannya. Juga ada sebagian temen saya yang bertempat tinggal di apartemen, dengan biaya perbulan mencapai Rp. 7 juta. Sedangkan total uang jajan dan tempat tinggal mereka menghabisakan dana sebesar Rp. 12 juta perbulan. Ada juga yang ketika merayakan ulang tahun, dia dikasih hadiah fortuner oleh orang tuanya. Point dari itu semua adalah mereka kaya sejak lahir, ilmu sosialnya hanya teori bagi mereka.

Pola pikir kritis tidak berdasarkan lembaga dan kampus mana dia belajar. Budaya akademik di UGM sudah terbentuk sejak lama, jika tidak membaca maka dia akan tertinggal. Mahasiswa harus mampu menentukan tujuan jangka pendek dan jangka panjang. Contoh sederhananya : Berapa kalikah dia sudah membaca buku dalam satu semester?. Di UGM pihak kampus memberikan akses yang seluas-luasnya terkait minat baca mahasiswa. Pada saat ujian akhir para dosen memberikan kisi-kisi soal dan juga sumber bacaan, sekaligus juga memberi ancaman berupa sanksi bagi mahasiswa yang melanggar. Bagi saya seorang santri juga harus selalu kritis, serta bisa menemukan rasa bangga sebagai santri dan mahasiswa IAIDA. Kemudian bagaimanakah cara IAIDA bisa membangun budaya akademik ?. jawabannya adalah harus ada penggerak awal. Jangan pernah takut untuk bergerak dan bersuara. Di UGM sendiri seorang dosen mempunyai peran utama masing-masing, menggerakan mahasiswa unutk berfikir kritis dan serta mengembangkan budaya membaca. Jikalau ada sebuah kesalahan, segeralah disuarakan. Karena bagi saya orang yang tidak mau mendengar perkataan atau pendapat orang lain, biasanya dia mempunyai backing yang kuat dari orang yang berkuasa.(ab)

Share:

Pelaksanaan UAS Gasal 2019 UPTB



Blokagung - Tepat pada tanggal 25 Januari 2020, Unit Pelaksana Teknis Bahasa (UPTB) Program Intensif Bahasa Asing (bahasa Arab dan bahasa Inggris) di Institut Agama Islam Darussalam (IAIDA) Blokagung Banyuwangi telah melaksankan Ujian Akhir Semester (UAS) Semester Gasal tahun akademik 2019/2020.

Dalam pelaksanaan ujian akhir yang telah dikuti oleh beberapa mahasiswa semester 3 sampai 5 ini, berjalan dengan khidmad dan lancar. Adapun ujian akhir ini, telah dibagi menjadi dua gelombang yaitu pada tanggal 25-26 Januari 2020 untuk gelombang pertama dan pada tanggal 29-30 Januari untuk gelombang kedua. Pada gelombang pertama ini, diikuti oleh beberapa mahasiswa yang telah mengulang program intensif bahasa, baik bahasa Arab maupun bahasa inggris. 

Berkaitan dengan teknis pelaksanaan ujian akhir ini, maka pihak panitia ujian memberikan opsi baik itu secara oral (red. langsung) maupun dengan mengumpulkan video. Dalam ujian yang telah dilaksanakan Sabtu pagi tanggal 25 Januari 2020 ini, menggunakan metoda oral. Dalam metode oral ini, peserta ujian langsung mendapatkan soal yang langsung diberikan oleh masing-masing tutor yang mengampu. (ab)
Share:

Rapat Persiapan UAS Gasal 2019


Blokagung - Setelah sekian lama Program Intensif Bahasa Asing (Arab&Inggris) Unit Pelaksana Teknis Bahasa Institut Agama Islam Darussalam (IAIDA) Blokagung berjalan selama kurang lebih satu semester, maka seluruh direksi jajaran pengurus harian UPT Bahasa IAIDA akan melaksanan Evaluasi Akhir (UAS) Program Intensif Bahasa. Adapun rapat tersebut, telah menelurkan beberapa teknis, mulai dari pelaksanaan hingga prosedur pengambilan sertifikat. Berikut hasil rapat persiapan UAS Gasal 2019 :

1. Pelaksanaan :

  • Kelas ulang tanggal 25 dan 26 Februari 2020.
  • Kelas reguler tanggal 29 dan 30 Februari 2020.
2. Fokus UAS hanya pada 1 keterampilan bahasa yaitu speaking atau muhadasah.
3. Teknik UAS :
  • Bisa dengan video: Mahasiswa mengumpulkan video speaking/muhadasah dengan durasi dan tema yang ditentukan oleh tutor. Video diberi nama, Nim, dan kelas mahasiswa.
  • Bisa dengan oral/langsung.
  • Tutor memberi soal speaking/muhadasah dan menilai performa mahasiswa secara langsung.
4. Penilaian :
    Level penilaian dibagi 3 yang diperinci sebagai berikut :
    Program bahasa Arab :
  • ممتاز
  • جيد
  • كفاية
    Program bahasa Inggris :
  • Advance
  • Intermediate
  • Basic
5. Pengumpulan terakhir nilai dan presensi yang sudah ditotal tanggal 3 Februari 2020.
6. Tanggal 09 Februari 2020 farewell akan dilaksanakan di gedung Haromain. 
7. Bagi masing-masing kelas harus membuat 1 penampilan/persembahan.
7. Pembagian sertifikat akan dilaksakan pada saat farewell party. (ab)
Share:

Rapat Ajaran Baru

foto : Suasana rapat koordinasi bahasa

Blokagung - Pada hari selasa tanggal 17 September Unit Pengembangan Bahasa Institut Agama Islam Darussalam Blokaugung, mengadakan rapat koordinasi terkait dengan ajaran baru semester ganjil. Dalam rapat yang dihadiri oleh direktur UPT Bahasa Zulfi Zumala Dwi Andriyani, M.A, koordinator bahasa Arab maupun bahasa Inggris dan beberapa tutor tersebut, tampak khidmat mengikuti acara tersebut.

 
Program Intensif bahasa merupakan program wajib bagi seluruh mahasiswa yang hendak menempuh program KKN dan Skripsi. Oleh karenanya, seluruh jajaran UPT Bahasa akan memaksimalkan kinerja yang ditempuh selama satu semester. 

Dalam rapat tersebut, menghasilkan beberapa program-program yang harus dijalani oleh para mahasiswa Institut Agama Islam Darussalam Blokagung. Diantara program tersebut adalah, para mahasiswa diwajibkan untuk cheklock pada fingerprint yang sudah disediakan oleh UPT Bahasa sendiri. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari miss comunication antara pengurus UPT Bahasa dan mahasiswa yang mengikuti program bahasa tersebut. Bst
Share:

Popular Posts

Blog Archive

Total Pengunjung